
Salah satu film ttg makna hidup yang sempat membuat saya menitikkan air mata. Walaupun ini bukan film baru (tahun pembuatannya saja 1999), namun itu lah istimewanya buat saya. Dimana film ini tidak seperti film masa kini yang kebanyakan hanya bertema remaja seputar cinta, balas dendam, maupun intimidasi. Film ini lebih mengajarkan kita tentang makna hidup, tujuan Tuhan dalam hidup kita, juga pemulihan gambar diri (self image acceptance). Simon Birch, lahir dari keluarga sederhana dan lahir tidak normal (cacat). Ukuran tubuhnya sangat kecil hanya sebesar genggaman tangan ketika dilahirkan.Dokter memvonis hidupnya hanya bertahan 1 minggu, karena ukuran jantungnya juga sangat kecil sehingga tidak kuat untuk memompa aliran darah ke seluruh tubuh. Namun, kehendak Tuhan berkata lain ia hidup dengan normal hingga berumur 12 tahun. Ia bersahabat sangat dekat dengan Joe, anak rumahan yang sering diejek anak haram oleh teman-temannya. Mereka tumbuh bersama dengan kasih saying ibu Joe yang juga sangat menyanyangi Simon yang hanya seukuran boneka ketika berumur 12 tahun. Walupun sering dihina,diremehkan, dan dikucilkan oleh teman-temannya bahkan orang tuanya, namun Simon tidak pernah merasa minder dan berkecil hati. Ia justru meyakinkan orang-orang disekitarnya bahwa ia adalah alat Tuhan untuk menjadi pahlawan dan berguna bagi orang lain. Namun, hal itu semakin membuat orang lain memandang rendah dan remeh dirinya ketika secara tak sengaja ia memukul bola bisbol dan mengenai kepala ibu Joe (figure ibu yang sangat disayanginya) hingga meninggal. Joe pun marah terhadapnya dan menghujat ttg tubuhnya yg kecil itu bukan rencana Tuhan jika Simon sampai membunuh ibunya, satu2nya orang tua yg dimilki Joe. Semuanya semakin merendahkan dan menyalahkan Joe ketika Joe tak sengaja mencium gadis di drama natal yang membuat drama natal hancur berantakan. Sekali lagi Joe dihujat dan di maki-maki untuk tidak usah mengatasnamakan Tuhan dalam segala perbuatannya. Meski demikian, Simon masih percaya bahwa keberadaannya di dunia ini bukan suatu kebetulan, namun ada tujuan dan rencana Tuhan di baliknya. Simon percaya itu. Hingga suatu kali bus yang ditumpangi anak-anak sekolah Simon mengalami kecelakaan dan hamper tenggelam di arus sungai yang deras. Ketika semua orang panik dan tak bisa berbuat apa-apa, Simon maju memberikan dirinya untuk memimpin anak-anak keular dari bis dengan bantuan Joe. Hingga saat bis benar-benar akan tenggelam, ada satu anak yang terjepit dalam tempat yang sangat kecil dan sempit sehingga tidak bisa tertolong. Saat itulah Simon beraksi karena hanya ukuran tubunya yang sangat kecil itulah akhirnya ia berhasil meyelamtkan si anak yang terjepit hingga akhirnya ia kehabisan napas dan meninggal di rumah sakit. Simon merasa tenang karena akhirnya ia mnegerti tujuan Tuhan dalam dirinya yang kecil adalah menjadikannya pahlawan untuk menyelamtakan teman-temanya. Dari cerita singkat tersebut saya mengambil esensi bahwa apapun keadaanmu ketika dilahirkan, Tuhan punya rencana dan memakaimu sebagai alat-Nya untuk menggenapi rencana-Nya. Entah kamu pendek, kurus, kecil, gendut, jelek, atau bahkan cacat, Tuhan punya tujuan untuk menjadikanmu berkat bagi orang lain. Film ini juga mengajarkan arti dari sebuah pengorbanan, kesetiaan seorang sahabat, dan juga kepercayaan pada diri sendiri dan kehendak Tuhan. Simon Birch adalah figure seorang manusia yang banyak kelemahan namun ia mempunyai keyakinan yang lebih besar daripada siapapun orang-orang di sekitarnya yang mengantarkan dia menjadi pahlawan Tuhan untuk memuliakan nama Tuhan. Selain itu persahabatannya dengan Joe membuat kita belajar bahwa arti sahabat tidak dilihat dari bentuk fisik, namun sahabat yang sejati adalah sahabat yg mau menerima kekurangan dan kelebihan serta siap berkorban dan membela ketika sahabat membutuhkan kita. Simon Birch dan Joe membuat perbedaan menjadi jembatan untuk saling berbagi dan menumbuhkan keyakinan.
Film yang berdurasi hampir 2 jam ini membuat saya menitikkan air mata ketika akhirnya Simon harus meninggal dan Joe harus kehilangan sahabat sejatinya. Namun, saya pikir ini bukanlah sad ending karena Simon menutup mata dengan hati yang damai dan ia telah dimenangkan Tuhan untuk mengerti tujuan hidupnya begitu pula Joe dan orang-orang yang hidup dalam kehidupan Simon, mereka sekarang telah mnegerti arti dari penerimaan diri, keyakinan, dan kehendak Tuhan…..
The End
1 komentar:
Hallo, saya juga sangat tersentuh dg sinopsis film ini...
saya belum menontonnya dan sangat sulit mendapatkannya.
bisa merekomendasikan dimana bisa mendapatkannya?
tolong jwb via email ke winid.u@gmail.com
thx atas sharingnya...
Posting Komentar