
well, pertanyaan itu tiba-tiba melintas di benakku.
Tadi malam aku tidur hampir jam 3 pagi, gara2 ada salah satu temanku yang tiba2 menelponku sambil nangis2 dan curhat bahwa dia baru putus dari pacarnya. Saat ku tanya apa sebab nya, dia hanya menjawab bahwa hubungannya selama 5 tahun dengan pacarnya tu mulai hambar dan dia merasa kurang perhatian alias si cowo udah ga care lagi sama dia dan dia berpikir bahwa dia sudah tidak bahagia bersama cowo nya itu. Padahal dia berharap apapun yang terjadi dalam suka duka,senang susah, kaya ataupun miskin dia tetap ingin hidup dengan cowo itu sampai merid dan tua. Dia juga berpikir apapun yang akan terjadi kelak,asal ia bahagia ia pasti bisa survive menjalani setiap problema hidup dengan pasangan. Namun, ia putus karena ia merasa sudah tidak bahagia. Nah, ini poin nya, TIDAK BAHAGIA!!! Guess what? aku mulai berpikir bahwa ternyata hubugan 5 tahun orang pacaran pun masih bisa putus dan tidak bahagia. Terus, bagaimana donk dengan pasangan suami-istri yang paling tidak akan menghabiskan waktu untuk hidup bersama selama 50 tahun ? Apakah segala problematika hidup mereka akan menghambat kebahagiaan mereka? Atau, apakah jika mereka mengalami persoalan-persoalan hidup yang kian pelik seperti masalah ekonomi,anak-anak, maupun penolakan dari masyarakat sekalipun, asal mereka hidup bahagia mereka bisa survive?
Memang ini pertayaan yang seharusnya tidak usah aku pikirkan saat ini, tapi tiba2 saja aku pengen berpikir lebih dalam tentang hal ini.
Jadi, jika tujuan manusia untuk hidup hanya untuk mencapai kebahgiaan berarti apakah mereka adalah orang-orang yang telah melewati hidup ini dengan sempurna? Lalu, bagaimana jika banyak orang-orang tersebut yang pada kenyataannya saat ini justru tidak bahagia? Apa berarti tujuan hidup mereka tidak tercapai atau tidak akan pernah tercapai? Bahkan uang dan harta sekalipun tidak menjamin kehidupan orang selalu menjadi bahagia. Karena in fact, justru banyak pengusaha-pengusaha dan orang-orang kaya yang memilih bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Banyak kasus bunuh diri karena orang kaya yang tiba-tiba bangkrut, orang kaya yang ternyata tidak memiliki apa2 dalam menjalani makna hidupnya ntah itu karena kurang kasih sayang orang tua; terjebaknya hidup dalam lingkungan pergaulan yang salah bahkan mereka yang putus cinta; gagal terpilih dalam Pemilu; atau bahkan orang2 miskin yang tidak punya cukup uang untuk bayar hutang, yang selalu menjadi minoritas dan terjebak dalam kehidupan yang keras dan serba hedonis saat ini akan setuju bahwa mereka tidak bahagia. Ya, itu lah ciri-ciri orang yang hidup di jaman Postmodern saat ini. Namun, apakah batasan dari kebahagiaan itu sendiri? Apakah saat mereka bisa membayar hutang, mempunyai banyak uang untuk apapun juga yang bisa ia beli, memiliki cinta yang sejati, mendapat penerimaan dan kehormatan dari orang lain, bahkan memiliki segala sesuatu dalam hidupnya yang bisa membuat iri manusia lain, maka orang-orang itu akan disebut "yang berbahagia"???
Aku pun tidak mengerti apa jawaban mutlak dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun, yang aku tahu adalah kebahagiaan akan di dapat jika manusia menmpunyai hubungan yang akrab dengan Tuhan. Yang mengerti setiap kehendak-Nya, yang selalu menerima segala bentuk kehidupan ini sebagai suatu kasih karunia apapun itu kenyataannya, yang menjadikan Tuhan sebagai prioritas utama dan fokus hidupnya, yang menyerahkan seluruh hidupnya pada Tuhan, serta yang menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya alfa dan omega yang bisa mengubah apapun kehidupan seseorang semudah membalikkan telapak tangan. Walupun aku tidak tahu jawaban dasar tentang kebahagiaan, paling tidak aku yakin bahwa orang-orang tersebut akan jauh lebih berbahagia daripada orang-orang yang tidak mengenal Tuhan dan hanya memfokuskan diri untuk harta, kekayaan, nama besar, kekuasaan, kehormatan, penerimaan diri, dan segala hal yang berbau duniawi. Masuk akal kan?
and i believe that everthing that i have want in GOD, just believe Him i will accept immortal happiness..^o^//